Jumat, 28 April 2017

[MBTI in Anime] Hoto Cocoa (ENFP)

Makhluk terlucuk kedua se-GochiUsa versi saya sendiri


Ngelantur Sebentar:


"Chino-chaaan!" - Hoto Cocoa (on Kafuu Chino, for nearly every occasion)


Kurang afdol rasanya kalo saya udah membahas Chino tapi nggak mengorek-ngorek sang pseudo onee-chan, Hoto Cocoa.

Secara umum, sifatnya berbeda 180 derajat dari si dedek lucu rambut biru. Energik, ceria, imajinatif, scatterbrained, dan terobsesi jadi kakak perempuan yang baik. 100% ENFP (Ne-Fi-Te-Si)? Nggak juga. ESFP (Se-Fi-Te-Ni) juga bisa punya kecenderungan demikian. Tapi tentu ada alasan khusus kenapa saya lebih memandang Cocoa sebagai pengguna fungsi kognitif yang saya sebut pertama.

Well, kalo begitu langsung aja saya korek-korek dedek penggila kelinci yang satu ini.

Note: Kecuali 1 file .gif, semua screenshot berasal dari terjemahan Vivid-Taku.




YAELAH LUCU AMAT SI




Fungsi Kognitif:


Dominant: Extraverted Intuition (Ne)

Fungsi Ne Cocoa itu... gila. Gila KENCENGNYA dalam hal verbal. Di tiap episode pasti ada Cocoa yang selalu nyamber setiap ada percakapan. Dan seperti nature Ne yang melompat-lompat, balasannya nggak selalu nyambung dengan percakapan tersebut, bahkan kadang bisa berada dalam konteks yang berbeda. Fungsi ini juga memampukan Cocoa untuk langsung ngerti maksud nama-nama di menu Amausa-an bikinan Chiya (saya curiga ENTP - sesama dominan Ne) dalam sekejap. Well... karena fungsi ini juga Cocoa menafsirkan kalo teh dandelion bisa bikin peminumnya sekuat singa (lion). #tepokjidat

Ne ini juga seneng setiap kali ada sesuatu yang baru. Kata "baru" berarti kemungkinan, yang merupakan sifat alamiah Ne. Ini memampukan Cocoa untuk nggak ragu menghadapi situasi dan orang-orang baru. Ketemu dengan siapapun, dia pasti bisa membuka percakapan dan membawanya dengan lancar, bahkan dengan orang semisterius Aoyama-sensei dan opanya Chino beberapa tahun sebelumnya tanpa ada rasa takut. Ne juga berarti optimisme karena bisa melihat berbagai kemungkinan. Ini berkontribusi terhadap kepribadiannya yang amat sangat ceria.

Satu yang jadi catatan, Cocoa belum bisa menggunakan Ne ini secara dewasa penuh karena seringkali teralihkan dengan hal-hal nggak penting (dan sempet dikomentarin Chino... dalam hati), pokoknya asal hepi. Fungsi Ne yang lebih dewasa akan lebih fokus terhadap melihat berbagai kemungkinan dalam artian kreatif (ngebayangin probabilitas abstrak bisa jadi apa aja sesuatu yang dia tangkep dari sekitar) daripada sekedar tertarik dengan segala kemungkinan fun yang akan diperoleh dari sekitarnya.

Oh ya, "kreatifitas" Cocoa seperti nyaranin nyuci baju dikucek manual sewaktu mesin cuci rusak itu juga kontribusi Ne. XD

......lu aja gih. (-__-)


Auxiliary: Introverted Feeling (Fi)

Orientasi moral Cocoa selalu dimulai dari diri sendiri, sehingga bisa dikatakan sebagai pengguna Fi. Kompas moralnya simpel, berlandaskan prinsip "pengen memperlakukan Chino sebagai adik perempuan". Hampir segala tindakan yang "dilampiaskan"nya terhadap Chino juga nggak mempertimbangkan apakah dedek lucu rambut biru itu bakalan kesel/marah atau nggak, pokoknya hajar bleh sambil jerit-jerit imut "Chino-chaaaan!". #lalupeluk

Bukan cuma tentang Chino, pandangan Cocoa tentang orang banyak juga terbilang sederhana. Namun sekali lagi, berawal dari pendapat diri sendiri. Ada 2 yang sempet disebut. Pertama, dia menganggap yang dibutuhkan dalam hidup cuma 2 jenis orang: teman dan dedek perempuan. Kedua, semua orang telah dikenalnya selama minimal 3 detik, udah dianggep temen. Memang belum dewasa total, tapi dengan adanya kompas moral personal sederhana ini udah cukup bagi saya untuk memandangnya sebagai pengguna Fi. Dan Fi yang nggak dewasa ini memang cocok dengan atmosfer animenya yang lucuk-lucuk unyu kuadrat.

Terakhir, manifestasi Fi TERBAIK dari diri Cocoa ditunjukkan di episode 12 season 2, ketika dia memberi "wejangan" saat bermain Ciste. Fi-nya tampak jelas sudah mengalami development karena dia bisa merasakan apa yang dirasakan (baca: berempati) Megu dan Maya sewaktu pertama kali bertemu dengan Chino, yang pada akhirnya memampukan dirinya untuk memberi arahan yang sanggup memotivasi si dedek lucu berambut biru itu.

Seandainya semua orang kayak dia, dunia bakalan cepet damai.


Tertiary: Extraverted Thinking (Te)

Fungsi Te dalam diri Cocoa masih belum dibangun dengan baik, dan harus "dikontrol" terus sama Chino (ISTJ). Tapi karena ini tetep fungsi kognitif Cocoa, Te akan tampak "bocor" dan keliatan dari perilakunya. Ada tiga contoh yang keliatan jelas.

Pertama, sewaktu ada berita kalo kakaknya, Mocha onee-san, bakalan dateng. Fungsi yang berada di posisi tertiary dapat berfungsi sebagai mekanisme defensif otomatis, yang di sini diisi oleh Te. Artinya, Cocoa akan otomatis nge-bypass Fi langsung ke Te. Walhasil? Standar eksternal objektif dipake langsung tanpa filter Fi. Ini berujung pada dirinya yang tiba-tiba rajin kerja dan pengen pamer latte art ke kakaknya tersebut. Jelas keliatannya nggak natural karena nggak lewat filter Fi seperti perilaku Cocoa yang biasanya. Semacam jadi super extrovert nggak unyu gitu deh.

Kedua, episode 11 season 2. Te yang berorientasi pada standar eksternal objektif bereaksi ketika dia merasa ada yang nggak adil. "Yang lain aku ajak main nggak mau, kenapa sama Rize malah mau?". Di sini saya nangkep kalo Cocoa nggak puas dengan keputusan temen-temennya yang membedakan dirinya dan Rize. Sama-sama ngajak keluar rumah, tapi yang diturutin cuma dedek twintail tukang tembak tersebut. Walhasil, dia ngambek dan pundung meski kita sebagai penonton GochiUsa tahu, Cocoa orangnya nggak baperan dan cepet banget untuk ceria lagi.

Ketiga, episode 12 season 2. Di sini, sekali lagi sense of fairness yang berorientasi pada standar eksternal mengaktifkan Te Cocoa. Dia langsung murung begitu tau temen-temennya dan seisi kota udah pernah main Ciste, sementara dirinya belum pernah.

Pembohong kamu pembohongggg


Inferior: Introverted Sensing (Si)

Apa yang jadi kekuatan bagi Chino adalah kelemahannya Cocoa. Si memampukan Chino untuk mengerjakan pekerjaannya secara tekun, sementara Cocoa... boro-boro deh, nggak fokus banget. Namun seperti komentar saya di fungsi Te Cocoa, Si tetaplah bagian dari dirinya meski nggak digunakan secara sadar penuh.

Kapan Cocoa menggunakan fungsi ini?

Ada pada alasannya kenapa dia terobsesi menjadi kakak perempuan!

Si berorientasi terhadap impresi personal sensorik berdasarkan dari apa yang pernah dilihat/didengar/dipegang/dikecap/diendus, dan dalam kasus Cocoa ada pada impresinya akan masa kecil sewaktu ngeliat Mocha sanggup membuat kedua saudara laki-lakinya nurut. Kesan personal terhadap apa yang dilihat itulah yang memotivasinya untuk menjadi kakak perempuan yang baik. Secara singkat, Ne yang berandai-andai jadi kakak (menembus batas kemustahilan karena Cocoa itu anak terakhir!) ternyata "dikasih makan" oleh Si.

*mencoba berpikir positif*




Kenapa Bukan Tipe Lain?

Sampai sebelum artikel ini ditulis, saya masih bimbang apakah dedek lucu riang gembira yang satu ini ESFP atau ENFP. Masalahnya, perilaku lincahnya bisa juga dihubungkan dengan extraverted sensing (Se) yang menanggapi input sensorik real-time (bukan melihat domain abstrak kayak Ne). Tapi setelah nonton ulang beberapa kali, saya nggak melihat sama sekali fungsi inferior Ni dalam dirinya. Fungsi inferior Ni akan memampukan dirinya untuk punya "firasat" (pokoknya tiba-tiba tau aja akan hasil suatu hal - hasil pingpong feedback Se-Ni), sementara di sepanjang 24 episode GochiUsa season 1 dan 2... saya nggak melihat sama sekali hal itu, malahan yang ketemu adalah Si. Karena itu saya ngeliat dia sebagai ENFP.


***

[MBTI in Anime] Kafuu Chino (ISTJ)

Kafuu Chino #yaiyalah


Ngelantur Sebentar:


"Simple is best." - Kafuu Chino (GochiUsa 1st season, episode 3)


Edisi pertama analisis karakter via fungsi kognitif hasil pemikiran mbah Carl Jung yang dirumuskan ke dalam MBTI ini tentunya harus dari karakter yang amat sangat saya sukai banget (bahasa Indonesia macam apa ini...).

Secara umum, anak lucu berambut biru ini bisa digambarkan sebagai sosok yang doyan diem dalem rumah, tenang, nggak spontan lincah ke sana ke mari, rajin, dan reliable dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan kopi. Juga punya hobi yang sangat melatih ketelitian dan kesabaran, yaitu merakit botol dalam kapal kapal dalam botol. Tipikal ISTJ, eh?

Yup, Chino is an ISTJ yang seringkali dicap dengan stereotip rajin, teliti, prosedural, plus seringkali membosankan, dengan urutan fungsi kognitif Si-Te-Fi-Ne. Tapi karena setting anime ini pada dasarnya lucuk-lucuk unyu gemesin, maka Chino bisa jadi merupakan ISTJ paling cute yang pernah Anda lihat.

Oh ya! Satu hal lagi, SEMUA yang akan ditulis dengan tag "[MBTI in Anime]" PASTI MENGANDUNG SPOILER kelas berat. Jadi harap bersabar, ini ujian. #plak

Note: Semua screenshot berasal dari file hasil fansub Vivid-Taku.




SAYA AMBIL 10! #lalubeser




Fungsi Kognitif:


Dominant: Introverted Sensing (Si)

Fungsi Si selalu mengedepankan apa yang nyaman, sudah biasa, dan sudah dikenali. Sebagai fungsi dominan Chino, ini tampak sangat jelas dari fokus dan ketekunan dirinya dalam mengerjakan satu hal tanpa teralihkan perhatiannya.

Fungsi ini juga merupakan respon awal setiap ada sesuatu yang terjadi. Di awal-awal serial GochiUsa, Si bermanifestasi lewat gestur ketidaknyamanannya atas kehadiran Cocoa (kemungkinan besar ExFP - antara ENFP atau ESFP) yang spontan dan sok akrab padahal baru ketemu beberapa menit. Terus... nggak ada Tippy di kepalanya? Bisa gelisah. Karena itu dia memberanikan diri buat menaruh Anko di kepala, dan juga (diem-diem) nyaman dan seneng dengan topi yang dikasih Cocoa ketika pergi piknik sebagai pengganti Tippy yang ditinggal di rumah.

Tutur bicara sehari-harinya tergolong formal bahkan terhadap orang-orang yang sebaya dengannya, sebagai hasil dari seringnya frekuensi berinteraksi dengan para pelanggan kafe yang kebanyakan udah dewasa bahkan tua. Begitu diminta Cocoa untuk bicara secara lebih informal, Chino langsung gelagapan karena nggak terbiasa. Dan... sedikit spekulasi, mungkin cita-citanya sebagai barista bukan karena dia punya visi akan menjalani profesi tersebut di masa depan, tapi karena cuma itu yang udah biasa dia jalani.

Masalah "dikenali" ini bukan hanya bicara tentang "sesuatu yang secara spesifik pernah dialami", tetapi juga "impresi sensorik sejenis akan suatu hal". Contohnya ketika Mocha onee-san dateng ke kafe dan meluk Chino tanpa ba bi bu. Secara otomatis fungsi Si membawa ingatan Chino ke masa lalu ketika ada hal serupa terjadi (dipeluk ibunya) yang dirasa sama nyamannya secara impresi personal, meski yang memeluk jelas-jelas adalah orang lain.

Jujur saya rada-rada terharu di sini... 



Auxiliary: Extraverted Thinking (Te)

Ada Te, ada aturan. Di sini, Te milik Chino berfungsi sebagai "kendali" atas Cocoa yang lincahnya amit-amit. Cocoa nggak fokus kerja? Chino yang selalu ngingetin. Tandem dengan Si (impresi sensorik saat ngeliat Cocoa yang nggak bener pas kerja), Te adalah fungsi yang menyanggupkan Chino bilang, "Cocoa-san! (diikuti nasihat dan perintah lainnya)."

Te juga bicara perencanaan. Bisa dilihat dari dirinya yang udah merencanakan untuk menyelesaikan proyek kapal botolan sebelum liburan dimulai.

Selain itu, Te memiliki gaya komunikasi yang terang-terangan. Frekuensi terang-terangan Chino memang nggak setinggi Rize (saya curiga dominan Te), tapi selalu memberikan komentar-komentar yang sangat to the point meski nggak sampai kasar (hei, ini anime unyu-unyu, nggak boleh kasar!) ketika ngingetin Cocoa, sang pseudo onee-chan.

Satu lagi, Te juga berorientasi pada standar eksternal. Setiap ada sesuatu yang merupakan tugas sekolah (standar eksternal), Chino akan melakukannya semaksimal mungkin meski yang akan dilakukan bukan bidang keahliannya. Contohnya sewaktu ada pertandingan olahraga di sekolah, dia langsung meminta bantuan Rize untuk mengajari. Sama halnya ketika ada pementasan di sekolah, dia nggak mau kalah dari dua temen satu kelompoknya (Megu dan Maya) dan berlatih sekeras mungkin agar bisa menguasai balet sebelum pementasan. Perlu diingat kalo Chino nggak jago dalam urusan kegiatan fisik, tapi fungsi Te mendorong Chino untuk melakukan sesuatu untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Tidaaakk... dedek kejam! #plak



Tertiary: Introverted Feeling (Fi)

Fungsi Fi ini merupakan aspek yang menjadi development kecil dalam diri Chino di GochiUsa. Karena urutannya di fungsi ketiga (lebih subconscious dibanding dominan dan auxiliary), seringkali dia menyangkal perasaannya sendiri kalo sebenernya dirinya makin sayang sama Cocoa. Namun di titik puncak development, dia mengaku kalo kehadiran Cocoa itu menyenangkan baginya meski malu-malu sambil mengeluarkan jurus sambitan bantal. :P Lucu banget di situ sumpaaahhh

Fi juga memampukan Chino untuk menyadari secara moral personal apakah yang dilakukannya salah atau bener. Contohnya ketika dia "berantem" sama Cocoa di stasiun kereta untuk nganter Mocha onee-san yang mau pulang, dia sempet memikirkan apakah dirinya terlalu kasar atau nggak.

Boro-boro, Cocoa mah nggak baperan.



Inferior: Extraverted Intuition (Ne)

Ne bicara tentang kemungkinan dalam aspek non-sensorik alias abstrak. Makin tinggi posisi fungsinya, biasanya akan makin optimis orang tersebut karena di awal-awal selalu melihat segala kemungkinan yang ada baik positif maupun negatif. Chino? Nope. She's pessimistic dan selalu memikirkan yang buruknya duluan. Cocoa pura-pura tewas padahal cuma saos tomat? Panik. Rize yang sedikit bercanda kalo akan ngelatih Chino secara serius? Dianggep bakal keras luar biasa. Diajak piknik keluar rumah? Pesimis akan bisa menikmati atau nggak. Banyak lagi contoh pesimismenya di sepanjang serial.

Namun mainfestasi Ne yang buat saya paling nonjok ada di 1 tempat yaitu di ujung-ujung season 1, karena berhasil "menarik" 3 fungsi di atas-atasnya sekaligus. Saya jabarkan lebih detail.

Saking khawatirnya dengan Cocoa, Chino nggak ragu untuk keluar di hari bersalju demi dapetin obat. Sekali lagi, Ne bicara kemungkinan, yang dalam kasus ini aktif karena sakitnya Cocoa yang dianggap makin parah. Jika mampet di Ne, maka yang terjadi adalah dia bakalan stuck dan panik karena nggak bisa melihat kemungkinan lain, mentok karena bener-bener unexpected situation (dominan Ne kemungkinan besar nggak akan panik dalam menghadapinya karena lebih optimis - dan inget, ini GochiUsa, bukan drama sehingga nggak mungkin ada drama lebay dalam merespon).

Nah, kali ini Ne sukses mengaktivasi stack 3 fungsi di atasnya (Si-Te-Fi), sehingga dia berani melangkah untuk nerobos salju. Si menangkap impresi cuaca dingin, kesan sakitnya Cocoa yang makin parah, dan tambahan kepanikan karena obat yang abis. Te memampukan Chino untuk mengolah informasi dari Tippy dan berkesimpulan kalo dia bisa bolak-balik dalam waktu 1 jam untuk minta obat ke tempatnya Chiya. Untuk Fi? Unconsciously, she loves Cocoa already, jadi yang dilakukannya bisa dijadikan justifikasi moral personal (merasa dirinya harus nolongin Cocoa) untuk nerobos salju setelah dia punya perencanaan dan persiapan dengan pake jaket tebel.

CUTEST PANIC I'VE EVER SEEN.



Kenapa Bukan Tipe Lain?

Saya sempet mempertimbangkan kalo dedek berambut biru ini INTJ (Ni-Te-Fi-Se) karena sedikit ketipu akan sense of art-nya yang non-realis. Well... ternyata itu nggak ada hubungannya dengan fungsi introverted intuition (Ni), karena malah lebih ke arah interpretasi sensorik personal a.k.a. Si.

Ni juga bisa berkontribusi terhadap visi abstrak yang future-oriented, sementara Chino... nggak ada. Nggak ada satupun pandangannya yang bisa dibilang interpretasi abstrak tunggal berorientasi ke depan hasil dari input sensorik real-time di sekitarnya. Kalo Chino pengguna Ni, malah ada kemungkinan dia nggak pengen jadi barista karena memandang nantinya semua kafe kopi berbasis UMKM kayak Rabbit House bakalan tutup karena kalah saing dengan kedai-kedai kopi ternama.


***

Kamis, 13 April 2017

[Review Anime] Kobayashi-san Chi no Maid Dragon

Pokoknya ini naga semua.

Basic Information: http://anidb.net/perl-bin/animedb.pl?show=anime&aid=12091




Ngelantur Sebentar:

Again, udah ada first impression-nya. Berangkat ke review!






Sinopsis:

Kerja kantoran adalah hal yang sehari-hari dilakukan oleh Kobayashi, seorang wanita 20-an tahun yang tinggal sendirian di apartemennya. Hingga pada suatu pagi, kesendiriannya terganggu oleh kedatangan naga berwujud manusia bernama Tooru yang tiba-tiba saja menawarkan diri untuk menjadi maid Kobayashi...

...sebentar. Tiba-tiba?

Ternyata tidak. Kobayashi teringat akan kejadian di malam sebelumnya, ketika dirinya yang dalam kondisi mabuk mengajak Tooru untuk tinggal bersama. Termakan janji setengah sadar, Kobayashi pun menerima naga jadi-jadian tersebut untuk tinggal di apartemennya.

Keseharian Kobayashi terus diinvasi oleh serentetan naga lainnya. Kini Kobayashi tak lagi sendiri, meski harus berurusan dengan perilaku para naga yang kadang merepotkan.

Baru disebut di sinopsis, udah ngerepotin beneran.




Review:


KyoAni! Ada beberapa review yang mengatakan kalo Maid Dragon ini semacam KyoAni yang "kembali ke asalnya" yaitu komedi dengan sedikit rasa absurd, setelah bertahun-tahun era galau pasca K-ON movie. Seperti yang kita tahu, setelah K-ON movie rilis, KyoAni seolah-olah "bereksperimen" untuk memproduksi berbagai macam jenis cerita. Well, kalo saya sendiri nggak bermasalah dengan hal tersebut selama dieksekusi dengan baik.

Nah, Maid Dragon ini adalah salah satu contoh produk KyoAni yang diproduksi dengan baik. Tentu karena punya faktor-faktor yang membuatnya terlihat asik.

Kelebihan!

INI KELEBIHANNYA. Seriusan.


Dragon #1 - Relatable Protagonist!

Mungkin yang ini nggak berlaku untuk semua golongan umur, tapi saya harus mengatakan kalo KyoAni terbilang cerdas dalam mengadaptasi manga sesuai target demografi. FYI, serialisasi manga-nya dipublikasikan di majalah manga seinen Gekkan Action (penerbit Futabasha). Seperti yang kita tahu, itu artinya ditargetkan untuk pria berusia 18 tahun ke atas.

Dengan memiliki protagonis seperti Kobayashi, saya yakin banyak penonton (yang sesuai dengan target demografi) dapat memahami betul dan bersimpati terhadap sang protagonis. Capek kerja lembur, gimana tinggal sendiri bisa memicu kemalasan (sampah numpuk! XD), susahnya nyari tempat tinggal, dimarahin bos, temen kantor yang sering minta tolong, dan pengen melepas stress kerjaan... Ditambah lagi di sini Kobayashi direpotkan dengan kehadiran penghuni tambahan, dan mau nggak mau harus mikirin urusan sekolahnya Kanna. Mirip lah dengan bapak-bapak yang mikirin anaknya tiap kali masuk tahun ajaran baru/naik tingkat (khususnya dalam hal keuangan).

Another wild cute dragon appeared! Kobayashi used cream bread! It's super effective!


Dragon #2 - Music!

CHU CHU YEAH! PLEASE ME!

Tolonglah, itu adalah salah satu opening theme paling asoy geboy yang pernah saya denger seumur hidup! Aozora no Rhapsody yang dibawakan fhána adalah OST kedua di musim Winter 2017 (setelah opening anime sebelah) yang nggak pernah saya skip per episodenya. Beneran asik, lucu-lucu riang ceria gembira meriah gimana gitu deh. Pokoknya bawaannya itu fun banget dan pengen nari-nari aja setiap kali dengernya. \(≧∀≦)/


Dragon #3 - Seiyuu!

Saya selalu heran dengan jajaran staff KyoAni yang paham banget gimana caranya nyusun roster pengisi suara yang baik. Di Maid Dragon pun demikian, para seiyuu yang dipilih amat sangat cocok dengan karakter masing-masing. Yang paling notable ada 2 di sepanjang 13 episode. Tamura Mutsumi sanggup membawakan kepribadian cuek-cuek stoic dari Kobayashi, dan ternyata kocak juga sewaktu ngisi suara lagaknya orang mabok. Satu lagi, yang mungkin bisa Anda semua tebak... Naganawa Maria! Seiyuu Kanna ini SUKSES BESAR memultiplikasi konstanta cuteness desain karakter Kanna dengan warna suara dan pelafalannya yang cocok banget. Unyu kuadrat lah pokoknya!

Don't try this at home. POKOKNYA JANGAN.


Dragon #4 - Visual!

Sebagai penonton yang cukup mengikuti apa aja yang dibuat KyoAni, saya bisa katakan kalo taraf visual Maid Dragon ini lebih simpel daripada, katakanlah, Hibike Euphonium dan Hyouka yang keliatannya "lebih serius". Tapi... terkesan main-main aja udah kayak begini bagusnya. Bayangin kalo serius sekuat tenaga. Mungkin jadinya kayak visual trailer Violet Evergarden.

Begini ya... Bukannya saya bilang ini jelek, tapi coba tonton beberapa anime produksi KyoAni, minimal dari era Full Metal Panic 2 atau AIR sampai Hibike Euphonium 2. Saya yakin Anda akan mengatakan kalo Maid Dragon tergolong nggak kompleks dari artwork karakter sampai background. Mungkin secara keseluruhan tier visualnya setara dengan Nichijou/Lucky Star. Tapi! Simpelnya itu dibayar lunas dengan pewarnaan yang cerah dan animasi yang halus, PLUS sakuga setiap kali ada adengan rusuh di layar. ITU BENERAN GILA. Nggak bosan-bosannya saya katakan kalo adegan tersebut bener-bener menjatuhkan wibawa anime action yang low budget. Desain karakternya juga enak diliat, plus pada beberapa karakter ada kesan cute karena kepalanya yang mbulet. Dan saya nggak sedang membicarakan Kanna doang. Terakhir, visual semacam ini memang kompatibel dengan ceritanya yang nyantai.


Dragon #5 - Satire!

Saya harus menarik perkataan saya di first impression yang mengatakan ini nggak lucu karena salah director. Saya salah. Maid Dragon ini cukup menggelitik, tapi dalam sense yang berbeda dari slapstick ala Chuu2Koi atau bagian common route dari adaptasi VN Key (sekali-sekali main VN yah biar ngerti yang saya maksud :P). Boleh dikatakan kalo humor di sini orientasinya ke arah satir yang, jujur aja, saya suka telat nangkepnya. Jadi tolong ampuni saya. (@__@)

Bagian ini nggak bisa saya bahas banyak-banyak. Kalo terlalu detail diomongin, malah ntar udah antisipasi letaknya di mana. :P

Ini spoiler nggak ya?


Dragon #6 - Kanna!

Jujur nih ya, JUJUUUURRR... saya selalu nunggu Kanna keluar setiap kali episode baru Maid Dragon tayang. Entah bakalan cuma muncul beberapa detik atau full 1 episode didedikasikan untuk naga unyu yang satu itu, pokoknya saya seneng banget setiap kali liat Kanna. IMO, she's star of the show!

Subjektif? Mungkin iya. Saya nggak bisa membantah hati nurani saya yang menjerit kegirangan dan menyatakan kalo Kanna itu lucu BUANGET. Ada salah seorang temen saya yang menarik persamaannya dengan Miyauchi Renge dari Non Non Biyori, dan saya sempet membantah waktu itu karena menurut saya Ren-chon didefinisikan dengan quirkiness, sementara Kanna itu pure curiosity dalam berinteraksi dengan apapun dan siapapun di sekitarnya. Well... setelah 13 episode berlalu, saya jadi ngerti kenapa mereka berdua dikatakan mirip. Karena sama-sama bikin gemes tanpa saya harus melenceng mikir yang aneh-aneh! d(≧∀≦)

Jadi mari kita lindungi bersama naga unyu itu dengan membentuk Pakta Pertahanan untuk Perlindungan Kanna Kamui.

Tapi coba pikirkan baik-baik, apa jadinya seandainya naga dari mitologi suku Ainu itu dihilangkan. Yang akan disuguhkan mungkin hanya komedi bernuansa yuri antara Kobayashi dan Tooru, plus kita tidak akan pernah tahu kalo Kobayashi punya motherly side dan tanggung jawab untuk menafkahi orang yang ada di rumahnya. Maid Dragon hanya akan berisi Kobayashi yang pulang ke rumah, disambut Tooru, disuguhin makanan "ekstrim", dan silakan diulang sampai episode terakhir. Bahkan kehadiran trio Fafnir, Lucoa, dan Elma nggak bisa meyakinkan saya kalo mereka akan sanggup menggali sifat Kobayashi yang satu itu (bisa dikatakan sisi positif Kobayashi yang paling saya suka).

GENTLEMEN, WE MUST PROTECT HER AT ALL COSTS!



Sehebat-hebatnya KyoAni dalam bidang visual, studio tersebut jarang bikin sesuatu yang flawless di mata saya. Untuk Maid Dragon juga ada yang kurang meski nggak banyak.

Kelemahan!


Pertama, fanservice.

Saya nggak akan berhenti komplain tentang hal ini selama dipadukan dengan sesuatu yang nggak kompatibel. Eksistensi Kanna tampak terlalu kontras dengan segala macam fanservice di sini sehingga... make me cringe. Entah ekspresi Saikawa yang rada-rada (jujur, bagi yang suka "itu" pasti paham), yang nggak berhubungan langsung kayak interaksi Lucoa-Shouta, atau pun elemen-elemen "layanan kipas" lainnya. Pokoknya geli aja rasanya ngeliat sesuatu yang murni polos-polos innocent berdampingan dengan yang begituan di satu serial yang sama. Ergh. Kalo mau ya jangan bikin Kanna kelewat menggemaskan atau malah hapus fanservice-nya sekalian. Dengan demikian mungkin akan bisa saya terima dengan lebih berlapang dada.


Kedua, komposisi.

Entah apa yang terjadi dengan KyoAni selama 2 musim terakhir, tapi komposisinya lagi-lagi patah. Episode 13 itu punya atmosfer yang amat sangat kontras dengan 12 episode sebelumnya. Santai, santai, dan santai... terus TIBA-TIBA intensif rada drama. Mental saya langsung menggerutu ngeliat yang begituan karena memang aneh rasanya. Seandainya hampir di tiap episode ada sesuatu yang serius, mungkin saya akan lebih bisa menerima episode 13-nya.

"Oh cuma dua... santai aja deh."


Cuma 2 itu kok. Abis ini siap-siap Violet Evergarden kali ya (atau nonton Koe no Katachi dulu?).

Kalo nggak nonton ntar dimakan!



---------------




Rating:

8.1/10 (B rank) untuk Kobayashi-san Chi no Maid Dragon karena aspek audiovisualnya yang baik, satir berbalut humor, dan protagonisnya yang terkesan sangat down-to-earth. Nggak lupa juga karena ada Kanna~ :3

Direkomendasikan bagi yang menginginkan tontonan anime ringan.

Yak reviewnya kelar, saatnya meremin mata.

***

Senin, 10 April 2017

[Review Anime] Kemono Friends

Belakang: PPP Members (All Penguin)
Depan: Raccoon - Fennec - Serval

Basic Information: http://anidb.net/perl-bin/animedb.pl?show=anime&aid=12057




Ngelantur Sebentar:

LAH BUSET KENAPA SAYA BISA KEJEBAK NONTON TEMAN-TEMAN HEWAN NAN UNYU INI.

Oke cukup emosinya.

Sebelum ngomong lebih lanjut, saya WAJIB memberitahu kalo ada proper mindset yang harus dimiliki sebelum menonton anime ini. Pertama, jangan berharap tinggi-tinggi dalam aspek visual. Kedua, lapangkan hati untuk menerima cerita yang sederhana. Ketiga, bersiaplah dengan atmosfer yang sangat cocok untuk usia anak-anak.

Kenapa? Karena anime ini memang layak ditonton anak-anak!

Kemono Friends; けものフレンズ

Judul yang simpel, sesimpel artinya. Kemono = binatang/hewan. Friends... masa ndak tau? Tapi karena di judulnya sendiri pake katakana (which means, a loanword), jadi ya udah kita tinggalkan aja sebagai "Friends".

Ceritanya juga nggak kalah simpel dengan judulnya. Atau malah... nggak sesimpel keliatannya?

NB: Saya nggak nonton ini sewaktu ongoing tapi langsung kejar nonton di hari Jumat-Sabtu kemarin, sehingga saya nggak ngikutin diskusi dunia maya tentang berbagai teori atau spekulasi untuk anime ini per minggunya. Karena itu pula saya nggak sempet mikir terlalu keras tentang konten anime ini, dan... hasilnya bener-bener nggak terduga.




Sinopsis:

Seorang anak perempuan tiba-tiba saja berada di Japari Park, sebuah cagar alam dengan ekosistem buatan yang dihuni oleh berbagai makhluk antropmorfik yang disebut "Friend". Dia juga mendadak bertemu Friend bernama Serval, dengan basis genetik dari kucing serval. Merujuk pada tas yang dibawa, Serval menamai anak itu "Kaban" (secara literal: tas) berhubung anak tersebut tidak ingat tentang identitas dirinya.

Lewat petualangan yang lucu dan menyenangkan, keduanya menyelidiki asal-usul eksistensi Kaban sambil menjelajahi area-area yang ada di Japari Park, serta bertemu dengan para Friend baru yang unik dan beragam.

HIH LUCUK




Review:


Jujur, saya bener-bener nggak nyangka bisa nonton anime ini. Awalnya sama sekali nggak tertarik... 

...wait. Masih terlalu halus bahasanya.

Akan lebih tepat dikatakan kalo saya sama sekali nggak menganggap anime ini ada sewaktu ngecek kalender Winter 2017. Pasti sih keliatan sama mata sendiri, tapi filter kognitif saya seakan masuk ke dalam mode auto-reject sehingga boro-boro tertarik, inget aja nggak.

Tapi sekali lagi, seperti yang saya katakan di review sebelah, don't judge a book by its cover. Untuk anime ini, kayaknya lebih nonjok lagi tingkat keabsahannya. Bahkan berbeda dengan kebanyakan orang yang mulai tertarik di episode 4, saya udah tertarik sejak episode 1!

Lantas apa aja faktor yang bikin saya bisa "terjerat" teman-teman satwa yang lucu ini?

Kelebihan!

Kaban anak yang sebatang karaaa~ Pergi mencari ibunyaaa~


Friend #1 - Clean and Safe!

Ini awal dari kepuasan saya setelah menonton 12 episode. Semuanya aman terkendali dan, IMO, layak ditonton segala umur. Well, di awal tadi saya memang mengatakan kalo anime ini layak ditonton anak-anak kan? :P Mungkin akan ada sedikit yang questionable bagi yang super-konservatif, tapi sisanya oke-oke aja.


Friend #2 - Simplicity!

Garis besar plotnya nggak rumit, sederhana banget. Saya pun jadi inget kata Kafuu Chino di anime GochiUsa, yaitu "Simple is best". Dan itu terbukti di sini! Kesederhanaan garis besar cerita sanggup membawa saya untuk tetap fokus kepada petualangan Kaban dan Serval tanpa harus ada pengalihan isu ke hal-hal yang nggak penting-penting amat. Storytelling-nya juga nggak kompleks dan super intensif, kebanyakan hanya digambarkan melalui interaksi-interaksi yang sangat sugoooiii dan tanoshiii~ #waaaaiii

Oh ya, perlu diinget, cerita yang baik selalu dapat disimpulkan dalam 1 kalimat yang simpel dan mudah dipahami. Untuk Kemono Friends bisa saya deskripsikan begini: "Petualangan Kaban di Japari Park untuk menemukan asal-usul dirinya, ditemani Serval dan Friend lainnya." Cuma 1 kalimat majemuk yang pas 15 kata!

(Boleh tolong dikoreksi, "asal-usul" itu 1 kata atau 2 kata ya kalo menurut EYD? Kalo 1 kata, jadinya cuma 14)

Kayaknya Tsuchinoko ini yang level kognitifnya paling bagus di antara Friend yang ada......


Friend #3 - Music!

Opening theme-nya enak banget! Youkoso Japari Park e yang dibawakan para seiyuu dalam animenya kedengeran catchy dan semacam ada hypnotizing effect, nggak puas didengerin sekali. Tingkat keunyuannya mungkin nggak sekelas Yumeji Labyrinth di anime sebelah, tapi punya charm tersendiri yang susah dilupakan.

Satu lagi ada di BGM. Ada yang notable bagi saya, yaitu yang diputer setiap ada konfrontasi dengan Cerulean. Komposisi musik di bagian tersebut semacam memperkuat nuansa "makhluk asing" yang dimiliki para Cerulean. Juga karena pada dasarnya kuping saya memang bisa menerima musik elektronik. :P


Friend #4 - Composition!

TOLONGLAH. Kenapa saya bisa ketemu struktur cerita SEBAGUS INI di anime yang bungkusnya bikin sakit mata?! Dari episode 1 udah ada misteri-misteri yang seketika berhasil bikin saya penasaran!

Awal-awalnya serba mendadak. Tiba-tiba muncul Kaban-chan yang "amnesia", tiba-tiba muncul Serval yang nyebut diri sebagai Friend, tiba-tiba kesebut Starsand, tiba-tiba ngebahas perpustakaan, tiba-tiba muncul Cerulean, tiba-tiba robot yang nggak bisa ngomong jadi bisa ngomong... ARGH. Sebagai penonton dengan kadar penasaran yang nggak kalah dengan Chitanda Eru, yang beginian sukses membuang segala niatan saya untuk drop animenya. Menggunakan bahasa rada ekonomi sedikit, komposisi cerita di anime ini kayak bayar DP premis cerita sekian persen di episode 1, kemudian ngebayar cicilannya secara rutin dalam jangka 11 episode berikutnya tanpa ada bunga yang nggak profit bagi penonton. Teknik "melunasi cicilan"nya pun keren banget. Nggak ada di satu episode langsung diungkap semua nggak bersisa, pasti ada jatah yang pas untuk diungkap di episode berikutnya.

Cliffhanger-nya juga nggak main-main. Saya nggak habis pikir bisa-bisanya anime beraura santai begini bisa memotong cerita dengan tepat sehingga saya yang nonton MAU NGGAK MAU harus nonton episode berikutnya untuk tahu lebih lanjut.... lalu keterusan sampe episode terakhir.

Dan... hei, episode terakhirnya keren! Cukup baik menjadi klimaks. Juga sukses menceritakan kalo pertemuan Kaban dan Serval dengan para Friend dalam perjalanannya nggak sia-sia. Pokoknya refleks bikin saya tersenyum bahagia. :)

Yang kemampuan kognitifnya bagusan lagi, duet burung hantu ini.


Friend #5 - Worldbuilding!

Ini faktor yang paling mengagetkan buat saya. SUMPAH bikin histeriiissss!!

Sekilas, keliatannya faktor ini dengan kelebihan nomor 2 ibarat pasangan elektron-positron yang akan saling memusnahkan dan menghasilkan sinar gamma kalo ketemu. Tapi ternyata... tidak (dan tentu ada pengecualian lainnya selain ini). Worldbuilding Kemono Friends HARUS saya acungi 4 jempol (2 tangan 2 kaki), bahkan nggak berlebihan rasanya kalo saya katakan levelnya mengalahkan anime-anime isekai ataupun murni fantasi belakangan ini.

Pertama, ekologi dan iklim. Amat sangat jelas dengan penggambaran area-area yang ada, plus perbedaan iklim antar area yang sesuai dengan apa yang ada di dunia nyata. Iklim tropik padang rumput? Ada. Tropik hutan hujan? Ada. Subtropik? Ada. Gurun? Ada juga. Yang dingin-dingin bersalju? Ada banget! Nggak lupa juga dengan penceritaan munculnya Friend yang berbeda untuk area yang berbeda pula, sesuai dengan habitat aslinya di dunia nyata untuk jenis hewan yang diwakili. Perilaku dan ciri-ciri para Friend yang ada pun dirancang mirip dengan hewan aslinya (kecuali yang udah punah kayak Aurochs atau cryptid kayak Tsuchinoko yang nggak ketauan mirip apa nggak).

Kedua, underlying system. Penonton nggak dibiarkan menerima begitu aja keberadaan makhluk-makhluk antropomorfik berdasarkan hewan-hewan tertentu tersebut, tapi ada pemaparan yang solid kenapa bisa ada sesuatu yang demikian. Hal kecil seperti kenapa Lucky Beast selalu bisu sebelum ada Kaban-chan punya alasan yang sangat rasional. Pengungkapan nature dari Cerulean pun bener-bener nggak terduga. Siapa sangka kalo "bahan dasar" Cerulean di episode terakhir berhubungan dengan salah satu episode yang keliatannya seolah-olah nggak nyambung... #inginmenjerit

Ketiga, pre-story timeline. Ini favorit saya, karena mengungkap apa yang pernah terjadi di Japari Park serta korelasinya dengan alur cerita Kaban dan Serval. Semacam ada timeline paralel yang membimbing Kaban dan teman-teman satwa unyu itu dalam mencapai ending. Adanya eksplorasi ke titik-titik peninggalan masa lalu juga menguatkan kentalnya fondasi misterius berjubahkan nuansa kepolosan. Penggambaran peninggalan benda-benda buatan yang ada juga tampak berkarat, roboh sebagian, ataupun punya bentuk degradasi lainnya, yang sukses besar menunjukkan secara samar-samar kalo ada sesuatu yang pernah terjadi di Japari Park. Anehnya, keberadaan segala benda tersebut nggak pernah dipertanyakan oleh para Friend yang tinggal di situ.................

Lewat pengisahan worldbuilding, segudang hal sukses digali dan dikorek-korek hingga pada akhirnya... saya nggak nyadar di episode terakhir udah memahami BUANYAK hal tentang Japari Park dan segala isinya! Hebatnya lagi, teknik show don't tell digunakan dengan AMAT SANGAT BAIK sehingga kebanyakan penonton nggak perlu pusing dengan eksposisi verbal super panjang (itulah kenapa saya nggak menggunakan kata "penjelasan" satu pun sejak tadi). Cukup nonton, amati dan pahami apapun yang ada di layar, lalu... Anda akan terhipnotis dan seolah-olah nyemplung ke dalam Japari Park!

Shoebill, serem-serem unyu.



Kemono Friends ini bisa saya katakan anime yang nggak terduga dengan segala konten abstraknya yang gila banget (segala aspek cerita), namun punya kelemahan yang AMAT SANGAT JELAS.

Dalam hal apa?

Visual!

Seperti yang saya katakan di kelebihan nomor 4, "bungkus" anime ini bikin sakit mata. Saya yakin, fans garis keras Kemono Friends pun nggak bisa menyangkal kalo anime ini diproduksi dengan 3D CG yang sangat mengganggu penglihatan (hanya mungkin mereka akan mengabaikan faktor visualnya). Frame rate-nya juga di bawah anime normal, mengakibatkan segala gerakan tampak kaku. Saya denger budget untuk anime ini memang tergolong kecil. Bahkan saking kecilnya, roda bus di video klip opening nggak pernah muter di 6 episode pertama. Kesimpulannya, berharap pada visual layaknya keluaran studio-studio besar itu bagaikan Kaban-chan merindukan bulan. #apasih #plak

Mohon maaf bagi Anda yang menilai anime ini dengan angka yang tingginya kebangetan atau malah 10/100/5 bintang, tapi saya amat sangat nggak setuju. Elemen ceritanya menutupi nilai? Saya setengah setuju. Tapi! Kalo sampe 10 itu ekstrimnya luar biasa. Nilai 9 pun saya masih agak-agak gimana gitu. Kalo Anda hanya menganggap elemen cerita cukup untuk membuat nilai suatu anime berada di angka maksimum, kenapa nggak baca novel aja sekalian? Kan murni cerita tuh, nggak perlu memandang faktor visual sama sekali. Well, tapi sebaliknya juga saya nggak setuju. Visual sempurna pun kalo ceritanya nggak komprehensif ya buat apaan juga. Mending sekalian liat-liat artbook berisi cewek-cewek menyegarkan atau animasi-animasi cerah bersinar tanpa cerita. Inget, anime adalah suatu karya kolaboratif antara audiovisual dan storyline. Menganggap salah satunya aja udah cukup untuk membuat satu anime dikatakan masterpiece adalah anggapan yang sangat nggak masuk akal.

Tapi kalo sekitar 7 atau 8 saya setuju kok. Saya memang tipe penonton yang lebih condong ke cerita daripada audiovisual. (≧∀≦)

Pohon baobab yang begitu asalnya dari Madagaskar.



Berapapun nilainya serta segala anggapan orang yang pro dan kontra, saya nggak bisa membantah kenyataan kalo anime ini SANGAT MELEDAK di Jepang. Bahkan director-nya aja bingung kenapa anime yang dia arahkan bisa meledak............

Itu artinya, bersiaplah untuk season 2! Soalnya saya masih penasaran isi tasnya Kaban! Dan semoga visualnya dibagusin!

Sambil nunggu season 2, ngopi dulu gan.



---------------



Rating:

8.1/10 (B rank) untuk Kemono Friends karena segala aspek dalam cerita yang top notch dan nggak bisa diduga sama sekali hanya dengan memandang luarnya. Juga untuk opening theme-nya yang asik~

Direkomendasikan untuk semua umur dan khususnya bagi penonton yang menggemari anime dengan worldbuilding solid.

Pic terakhir fanart aja deh.

***

Sabtu, 08 April 2017

[Review Anime] Demi-chan wa Kataritai

Atas: Satou-sensei - Himari - Takahashi-sensei
Bawah: Yuki - Hikari - Kyouko

Basic Information: anidb.net/perl-bin/animedb.pl?show=anime&aid=12374




Ngelantur Sebentar:

Udah ada first impression-nya. Lanjut ke review aja ya?




Sinopsis:

Sempat dibenci dan dikucilkan di masa lalu, Ajin, yaitu para makhluk setengah manusia, tak lagi menjadi bahan bulan-bulanan di era modern. Kini mereka dianggap sebagai manusia biasa yang sekadar memiliki identitas berbeda.

Takahashi Tetsuo adalah seorang guru Biologi yang punya ketertarikan ilmiah terhadap para Ajin tersebut. Beruntung, ada 4 orang makhluk setengah manusia yang mendadak berada dalam jangkauan observasinya. Ada vampir, Takanashi Hikari. Ada dullahan, Machi Kyouko. Ada yuki-onna, Kusakabe Yuki. Juga ada sesama guru, succubus Satou Sakie.

Melalui interaksi dengan mereka berempat, Takahashi-sensei mendapatkan banyak data berharga untuk tesis yang sedang dikerjakannya. Bukan hanya itu, dirinya pun perlahan mampu memahami sekaligus memberi solusi atas masalah-masalah yang dihadapi keempatnya secara mendalam dan menyeluruh.

Dan juga melalui salah satunya, Hikari, sang guru Biologi tersebut mengetahui kalau kata Ajin sudah ketinggalan zaman, yang pada masa kini digantikan dengan istilah Demi.

Wadoooo gawat digodain #duar




Review:


ANIME INI MEMUASKAN BANGET! Pepatah bahasa Inggris yang mengatakan "Don't judge a book by its cover" sangat valid untuk yang satu ini. Casing-nya mungkin nggak meyakinkan, tapi kontennya... luar biasa. Nggak memberikan tendangan PHP ataupun gerakan 378, namun memberikan sesuatu yang jebret tingkat dewa.

Ini nggak lebay karena tentu ada faktor-faktor pendukung yang membuat saya bisa bicara demikian.

Kelebihan!

Kelebihannya adalah kepalanya portabel! #plak


Interview #1 - Characters!

Para karakter utamanya nyaris nggak ada yang one-dimensional. Hikari bisa saya anggap iya (cheerful, cheerful, and... cheerful), tapi sisanya nggak sama sekali, bukan sekedar karakter yang bisa didefinisikan hanya dengan 1 macam trait. Kyouko yang keliatan kalem-kalem lembut ternyata punya keinginan mendalam untuk tahu lebih jauh tentang dirinya sebagai dullahan, juga nggak tersinggung dengan jokes yang menyangkut tentang keunikan dirinya (bahkan sebenernya dia pengen bercanda dengan topik tersebut). Yuki yang keliatannya melankolik murung-murung di awal, pada akhirnya nggak lagi sering berpikiran negatif tentang diri sendiri, juga ternyata punya ketertarikan pada lawakan jadul. Satou-sensei bener-bener unik, suatu bentuk antitesis terhadap succubus klasik yang ada dalam legenda dan berusaha SANGAT KERAS untuk melawan nature-nya sebagai succubus.

Dan tentu aja buat Takahashi-sensei! Saya kagum banget sama karakter satu ini yang selalu bertindak sesuai kapasitasnya sebagai sosok akademisi, dan selalu bisa membawa keempat Demi yang ada kepada pemecahan masalah yang efektif tanpa harus bersikap sok pahlawan. Dia juga nggak sotoy alias sok tahu. Kalo beneran nggak tahu karena emang di luar bidangnya, dia nggak ragu untuk meminta bantuan orang lain yang lebih expert (ep 10). Terakhir, yang bikin saya harus tepuk tangan adalah pengakuan si pak guru itu kalo pada awalnya dia tertarik dengan para Demi karena murni rasa penasaran secara personal, namun perlahan berubah menjadi ketulusan untuk membantu keempat Demi di sekitarnya. Semacam punya balance antara brain and heart yang dibentuk lewat interaksi-interaksi yang keliatannya santai namun berarti. Keren lah!

And... hey Takahashi-sensei, now you're one of the best male anime character in my opinion.

Zaman sekarang ada murid cewek meluk guru cowok begini... HALO POLISI.


Interview #2 - Explorative!

Keseluruhan tema eksplorasi yang diangkat bener-bener unik dan memuaskan. Seperti yang udah saya katakan di first impression, yang kali ini dieksplorasi bukan lingkungan eksternal, namun para Demi per individu. Dipadukan dengan rasa penasaran bernafaskan intelektualitas dari karakter utama, semua hal menyangkut nature para Demi tersebut diceritakan dengan sangat luwes dan ngalir alamiah. Nggak ada yang terasa dipaksain.

Bukan cuma itu, hal-hal yang membuat penasaran penontonnya (baca: saya) pun diceritakan tuntas! Keseluruhan mental dan fungsi kognitif saya sukses dibuat menjerit gembira setiap kali ada nature seorang Demi yang ditelaah sampai ke detail-detailnya (episode 10 FTW!). Langkah-langkah penyelesaiannya pun enak ditonton, apalagi buat saya yang pada dasarnya science enthusiast (selain history enthusiast :P). Urutannya rapi. Memang nggak selalu terjadi di setiap episode, tapi biasanya ada hipotesis dari Takahashi-sensei, lalu ada sesi brainstorming dengan klien Demi, sesekali membahas hasil riset dari pustaka dongeng masa lalu, juga kadang ada pengujian melalui eksperimen-eksperimen santai yang nggak rumit, yang pada akhirnya menghasilkan kesimpulan yang paten. Semuanya ringan dan nggak njelimet.

Masih ada! Eksplorasi di sini nggak sekedar mengungkap nature para Demi sebagai makhluk unik, tapi juga pengaruhnya bagi nature manusia normal mereka. Inget, di sini mereka bukan monster gaib dunia antah-berantah. Gimana "bentuk fisik" Kyouko mempengaruhinya dalam kegiatan sehari-hari, gimana overthinking Yuki (yang belum terbukti) membuatnya menjauh dari orang banyak, serta gimana repotnya Satou-sensei akan kemampuan yang dimilikinya plus hubungannya dengan idealismenya tentang suatu hubungan romantik. Khusus Hikari, kebanyakan pengungkapan sisi kemanusiaan dan ke-Demi-annya adalah melalui keluarganya, berkutat seputar pengaruh nature vampir pada umumnya terhadap selera tertentu dan panca indera yang dimiliki.

Dan yang terakhir untuk faktor tema eksplorasi adalah...

Nggak menjurus ke sexualization!

Saya nggak tahu mulai nge-hits sejak kapan, tapi saya tahu kalo ada anime/manga dengan karakter makhluk setengah manusia yang menjadi objek ke arah... situ. Okelah, mungkin itu fetish personal, sehingga saya nggak punya hak untuk mengganggu gugat. Tapi! Anime ini sukses menunjukkan kalo segala sesuatu berbau setengah manusia nggak harus diarahkan ke yang mesum-mesum. Memang di sini tetap ada beberapa adegan fanservice, namun biasanya menyangkut Satou-sensei yang pada dasarnya memang makhluk dengan nature "begitu" (cuma ditekan sekuat tenaga). Fanservice yang ada pun nggak menjadi sekedar pemuas syahwat penonton, tetapi memiliki dasar yang masuk akal. Kalo pun masih ada yang lain, itu berada dalam kuantitas dan intensitas yang amat sangat manageable dan nggak bikin saya ngomel.

Saking eksploratifnya SAMPE HEISENBERG UNCERTAINTY PRINCIPLE DIBAWA-BAWA DI EP 10. BUSET.


Interview #3 - Message!

Di first impression saya katakan kalo saya "menangkap sesuatu" yang akan saya ungkap di full review. Sesuai janji, saya bongkar sekarang juga.

Yang akan saya katakan memang subjektif, dan otak yang berbeda mungkin akan menangkap sesuatu yang berbeda pula. Tapi... ada satu yang nggak bisa lepas dari pikiran saya setiap kali menonton para Demi di anime ini dengan segala problematikanya.

"Gimana seandainya kalo mereka itu sebenernya menggambarkan orang-orang yang punya kelainan?"

Eureka pun terjadi di dalem kepala saya. Itulah pemahaman menyeluruh yang saya dapatkan tentang anime ini, yaitu simbolisme tentang mereka yang kurang beruntung dalam beberapa aspek. Secara spesifik, begini kira-kira. Hikari bisa jadi simbolisasi untuk orang-orang dengan kelainan dalam hal mental. Kyouko untuk mereka yang physically disable. Yuki untuk mereka dengan gangguan dalam aspek psikologis. Terakhir, Satou-sensei bagi mereka dengan kelainan dalam hal seksual. Mohon maaf banget kalo dirasa menyinggung, tapi saya cukup awam dalam masalah kosakata untuk merujuk pada orang-orang seperti itu. Boleh dikoreksi kalo ada istilah yang lebih "halus".

Melangkah lebih lanjut, saya juga menyadari dua hal. Pertama, jangan merasa (maaf) jijik ataupun punya stigma negatif terhadap mereka yang punya kekurangan, ditunjukkan dengan masyarakat umum di sini yang udah menerima mereka sebagai orang biasa. Saya kurang tahu gimana di Jepang sana apakah secara general masih ada yang kayak begitu terhadap orang-orang yang demikian (sehingga mungkin perlu disindir lewat anime semacam Demi-chan), tapi saya berharap nggak di negara ini. Kedua, berkaca dari sikap Takahashi-sensei, menolong mereka tidak cukup hanya dengan hati, namun juga harus melibatkan otak. Kalo keduanya bekerjasama, maka bakalan tercipta solusi efektif bagi kekurangan yang dimiliki oleh orang-orang tersebut.

So, anime ini bukan sekedar hiburan bagi saya, tapi punya sesuatu yang baik yang bisa menjadi pembelajaran.

Serius, ini BEST REMARK di sepanjang anime.


Sekarang ke aspek-aspek lainnya. Untuk visual, saya masih beranggapan sama seperti di first impression, nggak ada yang buaguuuss buanget, tapi juga nggak ancur parah. Masalah suara-suaraan juga demikian. Opening theme sama ending-nya nggak jelek, tapi nggak juga bisa dibilang bikin nagih. Seiyuu-nya aja yang lumayan. Hikasa Youko paling menonjol di sini setiap kali ada perubahan tone ekspresi suara, diikuti Shinoda Minami (yang pada dasarnya saya suka warna suaranya).

Lanjut ke kelemahan!


"K-Kelemahannya?"



Nggak ada.

Serius, buat saya nggak ada yang ngurang-ngurangin. Dicari gimana juga nggak ketemu kalo secara pandangan personal. Cuma aspek-aspek netral itu aja (audiovisual) yang nggak bisa ngasih nilai plus, tapi juga nggak ngurangin. Pas di taraf acceptable. Maaf kalo dirasa bias, tapi... begitulah, saya nggak bisa memaksakan diri untuk nyari kelemahnnya.

Season 2? Boleh, saya selalu siap sedia menghadapi anime kayak begini. :)

"Ah masa sih lu siap didatengin kita-kita lagi?"




---------------




Rating:

8.6/10 (B+ rank) untuk Demi-chan wa Kataritai karena kontennya yang sangat eksploratif dan berorientasi pada individu dengan karakterisasi menarik. Nggak lupa juga untuk pesannya buat saya pribadi, yang kental tentang anti-diskriminasi.

Direkomendasikan untuk penyuka anime eksploratif santai, dan juga buat para pecinta genre slice of life.

See you later, Demi-chan!

***

Rabu, 05 April 2017

[Review Anime] Urara Meirochou

Kiri ke kanan: Kon - Nono - Koume - Chiya

Basic Information: http://anidb.net/perl-bin/animedb.pl?show=anime&aid=11985




Ngelantur Sebentar:

Seperti biasa, setiap musim pasti saya butuh dosis cuteness dari jajaran anime yang saya tonton. Untuk Winter 2017 kali ini, saya memilih...

Urara Meirochou; うらら迷路帖

Saya nggak ngerti apa terjemahan literal dari Urara, tapi Meirochou-nya berarti "labirin" tanpa minotaur yang bisa dikatakan sesuai dengan konsep latar tempat yang ada di anime ini.

Sebagai langkah preventif agar omongan saya nggak berubah bikin pusing kayak labirin, langsung ke review deh.




Sinopsis:

Urara - profesi dalam dunia ramal-meramal di kota Meirochou, yang ditujukan bagi perempuan berusia minimal 15 tahun.

Chiya, seorang gadis yang sejak kecil tinggal di gunung bersama para binatang, baru saja menginjak usia 15 tahun dan memutuskan untuk pergi ke Meirochou (Labyrinth Town). Berbeda dengan para perempuan lain, tujuan utama Chiya pada awalnya bukanlah menjadi seorang Urara, tetapi mencari keberadaan ibunya yang sudah lama menghilang. 

Keinginannya tersebut tidak bisa diwujudkan dengan mudah karena aturan protokoler yang berlaku di Meirochou. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan Chiya adalah menjadi Urara tingkat 1 yang harus dimulainya dari... tingkat 10, dan wajib belajar segala hal mengenai Urara di kedai teh Natsume-ya.

Bersama ketiga teman barunya, Kon si tsundere rajin, Koume penggemar sihir ala Barat, dan Nono si pemalu adik pemilik Natsume-ya, Chiya menjalani keseharian yang menyenangkan sambil melangkah menuju tingkat Urara yang lebih tinggi.

Ngebaca kalimat tersebut, saya mendadak keinget Kirisame Marisa dari game Touhou #jauhbanget





Review:


Ada satu hal yang jadi concern ketika menonton anime ini. Saya susah BUANGET untuk mengabaikan kemiripannya dengan salah satu serial anime unyu-unyu yang pernah di-review di sini, GochiUsa. Well, keduanya memang merupakan hasil adaptasi manga yang nuansa keseluruhannya menampilkan segala sesuatu yang lucuk-lucuk gemesin (Urara Meirochou di Manga Time Kirara Miracle, GochiUsa di Kirara Max -- satu perusahaan penerbitan manga kayaknya).

Tapi tentu ada hal-hal yang membedakannya dengan anime tentang anak-anak lucu tukang bikin kopi tersebut.

Kelebihan!

Kelebihannya lembut anget-anget #apasih #plak


Divination #1 - Character Design!

Boleh saya katakan kalo faktor inilah yang bikin saya betah nonton sampai akhir. Memang masalah selera, tapi buat saya yang sanggup menerima desain karakter yang lucuk-lucuk, saya mustahil membantah kalo Shimakaze Mk.II Chiya itu bener-bener memancarkan aura untuk minta dipeluk. Color theme-nya juga bagus, karena pada dasarnya saya emang suka ngeliat karakter cewek muda dengan rambut ubanan pucet-pucet plus warna mata nyentrik. Tiga yang lain juga hampir sama lucunya, dengan Kon punya sedikit ekstra poin karena ujung pita yang mencuat di belakang kepalanya itu.


Divination #2 - Music!

BGMnya bisa saya katakan tepat guna. Sentuhan musik latar yang seringkali bernuansa Eastern mememperkuat atmosfer Jepang tradisional yang secara visual udah kental. 

Kemudian... oh iya.

Plis deh, PLIS. Lagu opening-nya itu unyu BUANGET! Yumeji Labyrinth yang dinyanyikan para seiyuu keempat karakter utama anime ini selalu berhasil bikin saya senyum-senyum sendiri karena susunan melodinya yang enak dan suara nyanyi yang cocok, nggak ada yang kedengeran dipaksain. Ini juga salah satu opening theme yang nggak pernah saya skip setiap kali nonton episode terbarunya. Kanaetai yume ga aru, dakara kyou mo ganbaru~


Divination #3 - It Has A Story!

Berbeda dengan anime-anime yang murni 100% cute girls doing cute things dengan kegiatannya yang random acak abstrak, Urara Meirochou punya arahan premis pada tujuan tertentu sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan pun nggak bakalan terlalu melenceng dari situ, yang kebanyakan memang masalah ramal-ramal gaib untuk mengorek lebih jauh masing-masing karakternya. Juga ada ujian naik tingkatnya, yang boleh saya katakan cukup baik menjadi elemen untuk mengingatkan penontonnya kalo sebenernya anime ini bertujuan mengarahkan Chiya terus naik tingkat supaya bisa bertemu ibunya.

INI SIAPA YANG BIKIN NANGIS WOI! NGAKU!


Yup, segitu aja kelebihannya yang nonjok. Saya nggak bisa mengatakan banyak hal-hal yang spesial karena sisanya, IMO, biasa aja. Hanya ada karakter-karakter dengan archetype yang umum ditemui dan kejadian-kejadian yang (udah seharusnya) lucu tapi nggak sampe bikin saya pengen meluk monitor.


.....plis, ini geli abis.



Justru ada poin-poin yang membuat skor anime ini nggak mungkin di atas 7.0.

Kelemahan!

"Udah kelebihannya dikit, masih ada kelemahannya?! MASIH ADA?!"


Pertama, fanservice.

Ini faktor kontribusi terbesar yang bikin saya selalu keinget dengan GochiUsa. Perlu diketahui kalo anime tentang anak-anak tukang bikin kopi tersebut punya kadar fanservice di season 1 yang cukup... begitulah, semacam nggak kompatibel sama pure cuteness. Di Urara Meirochou pun demikian, ada beberapa scene fanservice yang, IMO, lebih baik dihilangkan karena mengaburkan nuansa murni unyu-unyu.


Kedua, seiyuu.

Kayano Ai (seiyuu Nina-sensei) memang punya suara khas, tapi seiyuu para karakter utamanya... justru nggak. Lucu kok, cute-cute gimana gitu lah. Tapi saya nggak menemui aura kekhasan yang nggak terlupakan. Parahnya lagi, saya merasa amat sangat terganggu dengan seiyuu-nya Nono (Yoshimura Haruka). Bukan berarti saya bilang orangnya yang nggak bagus. She has potential, terbukti dari dirinya yang bisa ngisi 2 bentuk suara sekaligus (Nono - Matsuko). Tapi... jujur aja, buat telinga saya suaranya sewaktu menyuarakan bagiannya Nono itu dipaksain dengan cara yang nggak enak. Karena mustahil untuk nge-skip dialog, jadi mau nggak mau setiap kali Nono ngomong, saya abaikan aja suaranya dan baca subtitle semata. (=__=)"


Kedua, unfinished story.

Berbeda dengan komplain saya di Mikakunin de Shinkoukei, saya sama sekali nggak bermasalah dengan pencampuran elemen-elemen serius dan lucuk-lucuk di anime ini karena komposisinya yang nggak patah terlalu kontras. SAYANGNYA! Ceritanya nggak tuntas. Inget, premis cerita anime ini adalah gimana usaha Chiya untuk menemukan ibunya yang udah sekian lama menghilang. Di sini? Masih JAUH dari itu dan... selesai. ERGH.

I demand 2nd season!



Udah gitu aja. Pendek ya review-nya?

"Ho oh, pendek yah?"




---------------





Rating:

6.5/10 (C rank) untuk Urara Meirochou karena secara visual lucuk-lucuk minta dipeluk~ Juga karena punya arahan cerita yang jelas untuk ukuran anime cute girls doing cute things (CGDCT). Tentu nggak lupa untuk opening theme-nya yang imut-imut~ :3

Direkomendasikan bagi siapapun yang butuh dosis anime unyu-unyu ringan.

I hope this kind of cuteness will be back soon.


***